Hingga akhirnya ketika dunia mulai marah, ketika bencana alam mulai melanda, siapa yang patut untuk dipersalahkan? Semua manusia yang punya hati pasti akan tersadar kalau semua yang terjadi adalah ulah mereka sendiri. Siapa yang menanam pasti akan menuai. Umat manusia mulai bertindak dengan gencar memprotes perusakan terhadap bumi, mulai memasang spanduk mengenai peringatan akan pemanasan global. Mereka tidak hanya bicara, tapi juga mulai bertindak. Hanya saja, apa yang telah dilakukan sedikit terlambat...akan butuh waktu puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan tahun agar segalanya kembali normal. Tetapi, apakah kita akan diberi banyak waktu untuk itu? bagaimana generasi sesudahnya? apakah mereka akan melanjutkan perjuangan manusia masa sekarang? tak ada yang tahu.
Tapi manusia tak akan pernah kehilangan harapan untuk mendiami bumi yang lebih baik. Tak akan pernah. Namun, semua akan sia-sia saja jika tak ada penanganan serius dari semuanya. Tak perlu banyak bicara tentang hal-hal besar yang belum tentu bisa terealisasi dengan baik. Tak perlu banyak bicara. Hanya tindakan riil yang dibutuhkan untuk ini semua. Sekecil apapun itu. Bukan obrolan yang tak punya arah, bukan perdebatan panjang yang tak tahu mana ujung mana pangkal, bukan sekedar coba-coba, melainkan tindakan. Benar-benar tindakan. Tindakan nyata untuk dunia yang telah terluka oleh ulah kaki-tangan manusia.
Dan pada akhirnya, manusia perlu merenung. Renungan untuk bumi. Lalu bertindaklah sebelum betul-betul terlambat.
Sesosok pagi itu datang
Menghadirkan semangat
Meski hanya sebentang cakrawala
Sapaan alam yang menggema
Mengusik diri yang menyepi
Mengguratkan pesan sebuah nama
Alam...
Topangan hidup para insan-Nya
yang seolah lupa
akan bisikan dari surga
Belaian angin...
Arakan awan...
Deburan ombak...
Seakan menanti tangan-tangan itu
Membenamkannya ke dasar hati manusia
Tak ada yang salah dengan alam
Meski kelam membelam
Meski tangan-tangan itu berulah
Meski kehendak tak tersampaikan
Dunia tetap mengulum senyum
Tak terhitung derita dunia
Oleh tangan-tangan makhluk-Nya
Tangan jahanam yang merambah jantung dunia
Kita...
Manusia...
Insan dunia yang durhaka pada ibu pertiwi
Pantaskah kita menghirup nafas kehidupan...
Setelah kita menoreh luka pada dunia?
Pantaskah kita?
Sesaat dunia marah
Sesaat kita tersadar
Sesaat dunia tertawa
Sesaat itu kita kembali lupa
Namun...
Dunia tetap mengulum senyum
Senyum yang takkan pernah lenyap
Dari wajah dunia yang telah luka...

1 komentar:
Aoko suka nulis puisi ya?
Lam kenal...
Posting Komentar